Dukuh Beteng : H. Joko Triyono

Padukuhan Beteng berada di wilayah Kalurahan Tridadi, Kapanewon Sleman, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55511

Terdiri dari 6 RT dan 2 RW

Jarak dari pusat pemerintahan kurang lebih 1 KM ke arah Barat.

SEJARAH PERJALAN DUSUN BETENG / DURENAN TRIDADI SLEMAN

Sejarah perjalanan Dusun Durenan / Beteng tidak lepas dari Pemerintahan Mataram Kuno pada waktu itu. Pada masa Pemberontakan Trunojoyo, Pemerintahan Mataram Kuno meminta bantuan Pasukan dari Bugis sejumlah 2.000 orang dengan berbagai profesi: ada ahli perang, ahli pengobatan dan pembuatan peralatan perang, pedang, tombak dll. Pasukan dari Bugis di bawah Pimpinan Kraeng / Daerang Galensong dan Naba.

Dan Trunojoyo menderita kekalahan, namun Pasukan dari Bugis tidak mau pulang dan menetap di jalan utama Jogja Magelang, dari Semen sampai ke wilayah Melati Jombor, di bawah Pimpinan Kraeng / Daeng Galengsong. Sedang Daeng/ Kraeng Naba bergabung dengan Pasukan Mataram, maka wilayah yang ditempati Pasukan Bugis disebut Bugisan.

Pada waktu itu diutuslah seorang Demang dengan nama Demang Soijoyo untuk membuka lahan di hutan Rempelas, maka dibukalah hutan tersebut dan ditanami pohon Durian. Kemudian hutan rempelas beralih nama menjadi Durenan.

Pada tahun 1610 terjadi erupsi Gunung Merapi dasyat meluluhlantakkan bumi utara Mataram termasuk wilayah Durenan/ Pisangan. Demang Soijoyo melapor ke Kraton dan diutuslah Perwira Pasukan Kraton bernama  Joyudho untuk membantu Demang Soijoyo mencari sumber air.

Dengan kesaktiannya Joyudho menarik sumber di bawah pohon rempelas sisa hutan rempelas, dari mata air Nogorojo Kulon Progo dengan debit yang sangat tinggi memancar. Orang Jawa mengatakan cempor, maka terkenal tuk sumber Rempelas dengan nama tuk Sempor. Karena kesetiaan Joyudho yang tidak ditarik kembali ke Kraton sehingga mukso. Diyakini hingga kini masih menunggu di tuk Sempor buatannya. Dan Demang Soijoyo bertempat di Dusun Duren hingga berputra Soikromo yang menurunkan keturunan tiga orang: 2 pria, 1 wanita. Dua pria tinggal di Dusun Duren beranak pinak yang perempuan tinggal di Tegal Selatan Dusun Duren.

Pada waktu penjajahan Belanda, pada awal Perang Jawa terjadi suatu peristiwa yang dikenal dengan peristiwa Pisangan menurut penuturan Widiharjono (89 tahun) penduduk Pisangan. Prasasti Tembi, pada waktu itu Mulyo Sentiko menghadang pasukan Belanda dari Semarang yang akan masuk ke Yogyakarta di bawah pimpinan Kapten Komsius bersama 200 pengawalnya dan membawa uang 50.000 golden. Dalam buku catatan Sagimun (1985) sumber di Belanda 28.600 golden dan catatan buku Saleh Jamhari (2014) sejumlah 30.000 golden. Dan pasukan Belanda dibantai di hutan (Pohon Lo) terkenal dengan bulah Logorok.

Maka Belanda membuat Beteng dengan ukuran 4 x 3 m, tinggi 2,5 m dengan ventilasi 8 x 40 cm, dengan atap melengkung 130 cm x tinggi 180 cm dan memuat 22 orang. Maka dibangun pula sarana MCK dan rekreasi di sumber Sempor untuk keperluan pasukan Belanda penjaga Beteng yang tercatat dalam peta De Stuers (1830). Sama dengan yang ada di Melaten (Mlati), Kemloko, Poncol Pelem, Tegalweru, Ngemplak, Bligo, Semen dan lain sebagainya.

Wilayah ini dibawah kendali Daerah Operasi Yogyakarta pimpinan Kolonel Cochius di bawah Batalion Flankeur di bawah Pimpinan Letnan Kolonel Ledel.

Pada tanggal 8 April 1828 terjadi pencegatan tentara Belanda pimpinan Kolonel Cochius dengan 500 tentara oleh pengikut Pangeran Diponegoro bernama Bonyong Condrio yang terluka cukup parah.

Beteng tersebut termasuk dalam konsepsi Beteng Stelsel dan termasuk dalam 258 Beteng yang dibagun pada masa Perang Jawa. Mulai dari itu sekitar Daerah itu terkenal dengan sebutan Beteng. Pada tahun 1947 terjadi perubahan Pemerintahan dan terjadi penggabungan-penggabungan Kalurahan/ Desa. Maka Durenan menjadi Dusun Beteng dalam buku Register Pemerintahan. Maka inilah perjalanan sejarah Dusun ini dari Bugisan ke Durenan dan ke Beteng hingga kini.

Sumber:

  1. Buku English in Java — Belanda
  2. Prasasti Tembi
  3. Catatan Saleh Jamhari (2014)
  4. Buku Segitiga Yogyakarta karya Leuw III (1904)
  5. Bugu Sagimun (1985)
  6. Dan sumber-sumber lain

 

Batas Wilayah :

  • Sebelah utara : Padukuhan Kepitu, Kal. Trimulyo
  • Sebelah Selatan : Padukuhan Ngemplak Caban, Kal. Tridadi
  • Sebelah Barat : Padukuhan Wadas, Kal. Tridadi
  • Sebelah Timur : Padukuhan Pisangan, Kal. Tridadi

 

Pariwisata

 A. Pemandian umum Sempor

               Pemandian Umum sempor merupakan peninggalan kerajaan Belanda, memanfaatkan mata air alam yang tak pernah surut bahkan kering. Terletak di Padukuhan Beteng, sungai Sempor.

B. Wisata Sejarah Benteng

               Sama halnya dengan pemandian umun sempor, Peninggalan Belanda yang terletak di Padukuhan Beteng, saat ini tinggal beberapa reruntuhan benteng yang tersisa, merupakan bentuk monumental dari sejarah perjuangan gerilya Pangeran Dipenogoro melawan penjajah Belanda.