Arca Mahakala dari Dusun Beran Lor, Desa Tridadi, Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman (Nomor Inventaris: BG 498) digambarkan berdiri dengan sikap tribanga, tangan kiri memegang gada, tangan kanan dengan sikap jnana-mudra, yaitu ujung ibu jari dan jari telunjuk bersentuhan. Memakai jatamakuta, yaitu pintalan rambut yang disusun seperti sorban. Sebagai arca penjaga, Mahakala ini digambarkan dengan mata yang melotot.
Hiasan yang dikenakan Arca Mahakala:
a. Kundala atau subang yang cukup besar dan hiasan pada bagian belakang telinga seperti sumping.
b. Waijayanti atau beberapa kalung;
c. Keyura atau kelat bahu;
d. Kankana atau gelang dikenakan pada lengan atas dan pergelangan tangan, serta kaki;
e. Kancidama atau hiasan pinggang;
f. Yanopawita/Upawita atau tali kasta berupa untaian manik-manik yang digambarkan terjuntai ke bawah melalui tangan kanan dengan sikap jana-mudra; dan
g. Memakai kain dengan lipatan berada di sisi kanan menempel pada sandaran arca.
Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki warisan budaya dan cagar budaya bersifat bendawi yang merupakan kekayaan kulural, diantaranya merupakan bukti adanya pengaruh kebudayaan Hindu pada abad ke-8 hingga abad ke-10 Masehi, yang sering disebut Mataram Kuno. Dari bukti-bukti arkeologis yang ditemukan, wilayah Mataram Kuno meliputi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah saat ini. Di kedua wilayah ini terdapat tinggalan yang beraneka ragam dan salah satunya disebut dengan istilah candi, yaitu bangunan yang sangat erat hubungannya dengan keagamaan pada masa itu.
Berdasarkan prasasti Canggal dari Gunung Wukir, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, selain menyebut pertanggalan dengan candrasengkala “srusti indriya rasa” atau 654 Saka atau 732 Masehi, juga menyebut nama Sanjaya yang mengaku anak Sanaha, saudara perempuan Sanna. Dalam prasasti Canggal ini berisi tentang pendirian lingga (agama Hindu) pada suatu bangunan suci di atas sebuah bukit di daerah Kunjarakunja yang diperkirakan adalah Candi Gunungwukir.
Di wilayah Mataram Kuno ditemukan beberapa prasasti diantaranya adalah prasasti Tuk Mas yang menceritakan tentang sumber air yang suci, yang disamakan dengan Sungai Gangga di India. Di samping itu juga memuat gambar alat-alat yang biasa dipakai dalam upacara keagamaan, seperti gigi tiga, kendi, kampak, kalasangka, dan lain-lainnya. Walaupun tidak ada keterangan yang tepat, namun dapat diduga bahwa yang membuat prasasti bukan beragama Buddha.
Prasasti lain yang menyebutkan tentang bangunan suci adalah prasasti Siwagrha yang berangka tahun 778 Saka atau 856 Masehi pada masa pemerintahan Rakai Kayuwangi. Prasasti Siwagrha menyebutkan tentang pendirian bangunan untuk Dewa Siwa yang sering dihubungkan dengan Kompleks Candi Prambanan.
Pada tahun 2015 di Kompleks Candi Kedulan ditemukan prasasti Panangaran dan prasasti Sumundul dengan angka tahun 791 Saka atau 869 Masehi serta prasasti Tlu Ron yang berangka than 822 Saka atau 900 Masehi. Setelah masa Belitung masih terdapat dua orang penguasa lagi, yaitu Rakai Mahamantri I Hino Pu Daksa (911-915 M) dan Rakai Layang Dyah Tulodong (915-919 M). Setelah itu berkuasa Rakai Pangkaja/Sumba Dyah Wawa (919-928 M).
Ketika masa pemerintahan Rakai Sumba Dyah Wawa berakhir yang ditandai dengan penerbitan prasasti Sangguran 850 ṥaka (2 Agustus 928 M) rupa-rupanya ibukota kerajaan Mataram Kuno kemudian berpindah ke Jawa bagian Timur. Pada saat itu terjadi akumulasi penyebab kehancuran kerajaan, antara lain faktor ekonomi, politik, dan klimaknya bencana alam erupsi gunung Merapi sebagai simbol sistem kepercayaan (religious belief). Ibukota pertama kerajaan Mataram di bawah kepemimpinan pu Sindok adalah Tamwlang, seperti disebut dalam prasasti Turyyan 851 śaka (929 M). Kerajaan ini masih tetap disebut sebagai Kerajaan Mataram dalam prasasti Kinawe 849 śaka (28 Februari 928 M) hingga tahun 937 M (prasasti Anjukladang 859 śaka) dan tahun 943 M (prasasti Paradah 865 śaka).
Masa Mataram Kuno merupakan periode dengan peninggalan yang tersebar di seluruh wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Dari cacatan pada masa penjajahan Belanda yang dimuat dalam Rapporten van de Commissie in Nederlandsch-Indie tahun 1909 dan Rapporten van de Oudheidkundigen Dienst tahun 1915, menunjukkan betapa banyaknya tinggalan masa Mataram Kuno di wilayah ini. Peninggalan masa Mataram Kuno ditemukan di semua Kabupaten yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta
Berdasarkan data arkeologi diketahui bahwa di wilayah D. I. Yogyakarta pada pada abad ke-9 hingga abad ke-10 berkembang agama Hindu yang salah satu dewa dipuja adalah Dewa Siwa dalam beberapa candi sering diwujudkan dalam bentuk Lingga yang berpasangan dengan Yoni, dengan beberapa arca yang mendampingi atau sering disebut sebagai pantheon agama Hindu yang terdiri dari Agastya, Ganesa, dan Durga Mahisasuramardini. Tidak diketahui secara pasti keberadaan Arca Mahakala ini kaitannya dengan bangunan candi, namun harus diakui bahwa pada masa Hindu di Jawa banyak ditemukan reruntuhan candi yang tersebar di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kabupaten Sleman merupakan wilayah dengah temuan candi paling banyak dan tersebar merata dari batas timur sampai ke batas barat. Berdasarkan Rapporten van de Commissie in Nederlandsch-Indie voor Oudheikundig Onderzoek op Java en Madura (ROC) 4989, maupun, di Kabupaten Sleman sekarang yang dahulu dibagi dalam beberapa distrik, seperti Jumeneng, Kejambon, Godean, Berbah, dan Prambanan, dicatat banyak temuan berupa benda, bangunan, dan struktur cagar budaya dari kebudayaan Hindu.
Arca Mahakala dikenal merupakan bagian dari sebuah bangunan candi yang ditempatkan di relung sisi kanan pintu masuk pada candi beragama Hindu, sedangkan sisi kiri biasanya untuk arca Nandiswara, sebagaimana dijumpai pada Candi Sambisari dan Candi Kedulan. Arca Mahakala dari Beran Lor ini dimungkinkan berkaitan erat dengan bangunan candi, namun tidak jelas dari candi di mana. Dapat diduga merupakan bagian dari candi pada sekitar abad ke 8 – abad ke 10 Masehi.
Mengacu pada Rapporten van de Oudheikundigen Dienst in Nederlandsch-Indie (ROD) 1915 di distrik Jumeneng dikenal adanya beberapa temuan di dekat Kantor Kabupaten Sleman (lama), dengan temuan berupa arca Siwa, Ganesa, Durga dan makara (nomor inventaris 1206); dengan demikian temuan arca Mahakala dari Beran Lor, tidak jauh dari temuan-temuan di Sleman tersebut.
Di wilayah Kabupaten Sleman dikenal adanya temuan arca-arca dari agama Hindu maupun Budha, yang menjadi penanda perkembangan kedua agama tersebut.
Status Kepemilikan dan/atau Pengelolaan :
Kepemilikan: Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta
Pengelolaan: Museum Ullen Sentalu.