SEJARAH
Pangukan berasal dari kata “panggonane anguk-anguk” dalam bahasa Jawa yang berarti tempat menengok atau melihat tempat disebelah. Secara geografis Pangukan lebih tinggi daripada wilayah di sebelah timur. Dari cerita, Pangukan dipergunakan untuk melihat ke arah Timur atau ke arah Beran pada masa lalu apakah wilayah yang ditinggali aman ataukah tidak pada masa penjajahan. Terdapat satu makam yang terletak di tengah Makam Pangukan yaitu makam Kyai Basyariyah, ulama pertama yang tinggal menetap di Pangukan sampai wafat. Kyai Basyariyah juga biasa dipanggil dengan nama Kyai Panguk.
Sebelah Timur berbatasan dengan sungai Bedog yang memisahkan Pangukan dengan padukuhan Drono dan Beran Kidul. Seperti diketahui Pangukan dilewati jalur Kereta Api yang menghubungkan antara Yogyakarta – Magelang. Keberadaan dari Jembatan Kereta Pangukan tidak lepas dari Stasiun Beran yang berada di timur laut dari jembatan tersebut. Jembatan Pangukan menjadi jalur penghubung antara Stasiun Beran dengan Halte Pangukan. Seiring dengan dibangunnya Pabrik Gula Beran yang berada disebelah barat Stasiun Beran jalur rel ke arah Pangukan semakin ramai untuk pengangkutan hasil dari pabrik tersebut.
Pada akhir Desember tahun 1945, diadakan reorganisasi pemerintah desa yang terkenal dengan istilah blengketan. Terminologi blengketan diartikan sebagai penggabungan beberapa desa kecil menjadi satu desa yang cukup besar agar otonomi desa dapat dilaksanakan dengan biaya dari kas desa itu sendiri. Sampai akhir tahun 1945 Pangukan masuk wilayah Kalurahan Ngemplak Caban yang mewilayahi : Kring Wadas, Kring Paten, Kring Ngemplak Caban dan Kring Pangukan, maka Pangukan juga disebut Kring IV. Baru di tahun 1946 bergabung dengan Kalurahan Tridadi, penggabungan dari tiga kalurahan lama yaitu : Kalurahan Ngemplak Caban, kalurahan Beran Lor dan Kalurahan Beran Kidul.
Adapun estafet kepemimpinan di Padukuhan Pangukan sampai saat ini adalah :
- Bapak R. Moch Sumarjo : menjabat dari tanggal 12/11/1946 sampai dengan tahun 1990
- Ibu Atfiyah : menjabat dari tanggal 20 Februari 1991 sampai dengan tanggal 16 Juli 2018
- Bapak Budi Prakosa : menjabat dari tanggal 21 Januari 2020 sampai sekarang
Padukuhan Pangukan memiliki luas wilayah 42,12 Ha. Wilayah tersebut terbagi menjadi beberapa peruntukan, yaitu: permukiman, bangunan umum, jalan, sawah dan ladang, pemakaman, dan lain-lain (Fasilitas Umum seperti Balai RW dan lapangan). Peruntukkan terluas adalah pemukiman.
Secara administratif, Padukuhan Pangukan terletak di Kalurahan Tridadi, Kapanewon Sleman, Kabupaten Sleman. Padukuhan ini merupakan Padukuhan paling banyak penduduknya dalam wilayah administratif Kalurahan Tridadi. Batas-batas wilayah Padukuhan Pangukan adalah sebagai berikut:
- Batas sebelah utara yaitu Padukuhan Paten dan padukuhan Ngemplak Caban Kalurahan Tridadi, Kapanewon Sleman;
- Batas sebelah selatan yaitu Padukuhan Plaosan, Kalurahan Tlogoadi, Kapanewon Mlati;
- Batas sebelah barat yaitu Padukuhan Sanggrahan, Kalurahan Tlogoadi, Kapanewon Mlati; dan
- Batas sebelah timur yaitu Padukuhan Ngemplak Caban dan Padukuhan Drono, Kalurahan Tridadi, Kapanewon Sleman.
Padukuhan Pangukan terbagi menjadi 5 RW dan 12 RT. Pembagian wilayah dapat dikelompokkan sebagai berikut :
- Pangukan, terdiri dari 2 RW dan 4 RT, RW. 09 meliputi RT. 01 dan RT 02 dan RW. 10 meliputi RT. 03 dan RT. 04
- Jugang, terdiri dari 1 RW dan 2 RT, RW. 11 meliputi RT. 05 dan RT. 06
- Sleman Permai 2, terdiri dari 1 RW dan 2 RT, RW. 39 meliputi RT. 07 dan RT. 08
- Sleman Permai 1, terdiri dari 1 RW dan 4 RT, RW. 40 meliputi RT. 09, RT. 10, RT. 11 dan RT. 12.
Dukuh Pangukan : Budi Prakosa
Layanan Online : 087767632919 (WA)
Jarak dari pusat pemerintahan kurang lebih 1 KM ke arah barat, padukuhan terbanyak penduduknya di Kalurahan Tridadi