Sejarah perjalanan Padukuhan Beteng tidak lepas dari Pemerintahan Mataram Islam pada waktu itu. Waktu itu, Pangeran Trunojoyo memberontak Amangkurat I, Raja Kasultanan Mataram yang zalim dan berpihak kepada Belanda. Kezaliman Amangkurat I menyebabkan banyak warga ingin menggulingkan kekuasaannya.

Hutan Rempelas

Dulu, cikal bakal Beteng ada seorang Demang dengan nama Demang Soijoyo. Daeng/Kraeng Naba mengutus Demang Soijoyo untuk membuka lahan di Hutan Rempelas. Hutan Rempelas yang dibabat, ditanami pohon durian (Jawa: Duren). Bersamaan dengan itu, dibuka juga Padukuhan Pisangan dan Dukuh. Utara Kali Bedog dinamakan Padukuhan Pisangan karena banyak pohon pisang. Sebelah selatan Kali Bedog dinamakan Dukuh. Sedangkan sebelah timur Pisangan dan Dukuh dinamakan Durenan karena daerah tersebut banyak tanaman duren atau durian. Berkembangnya zaman, Hutan Rempelas yang ditanami pohon duren, beralih nama menjadi Durenan.

Pada tahun 1610, terjadi erupsi Gunung Merapi dahsyat yang meluluhlantakkan bumi utara Mataram termasuk wilayah Durenan. Semua mata air tertutup sehingga Keraton Yogyakarta berinisiatif menunjuk Perwira Pasukan Keraton yang bernama Joyudho untuk membantu Demang Soijoyo mencari sumber air. Dia menggali tanah di bekas Hutan Rempelas. Awalnya, Joyudho akan menarik sumber mata air dari Kulon Progo, yaitu Sumber Dararaja yang dialirkan ke Durenan. Berkat kesaktian Joyudho, ia dapat menarik sumber di bawah pohon rempelas sisa hutan rempelas. Karena debit air di sumber tersebut tinggi, maka air tersebut muncrat ‘memancar ke atas’. Oleh karena itu, sumber tersebut dinamai sumber atau Tuk Cempor. Tapi, karena lidah Jawa sulit mengucap cempor, maka lambat laut sumber air tersebut dikenal dengan sebutan Pancuran Sempor.

Pemberontakan Trunojoyo

Pada masa pemberontakan Trunojoyo, Pemerintahan Mataram Islam meminta bantuan pasukan dari Bugis. Pasukan dari Bugis dibawah pimpinan Kraeng/Daeng Galensong dan Kraeng Naba. Dalam pemberontakan tersebut, Trunojoyo mengalami kekalahan. Pasukan Bugis kocar-kacir dan berlari menyelamatkan diri. Pasukan dari Bugis yang dipimpin oleh Kraeng/Daeng Galensong, melarikan diri ke daerah Jodog dan ada yang pulang ke Bugis. Sedangkan pasukan Bugis pimpinan Kraeng/Daeng Naba, menyamar dan tinggal di sekitar Padukuhan Durenan, di sepanjang jalan utama Jogja Magelang, dari Semen sampai ke wilayah Melati Jombor. Mereka menetap, sampai beranak pinak, membaur dengan penduduk setempat.

Daeng/Kraeng Naba bergabung dengan Pasukan Mataram, maka wilayah yang ditempati Pasukan Bugis disebut Bugisan. Bukti keberadaan keturunan Bugis, saat ini masih ada orang Bugis yang tinggal di sepanjang pinggir Jalan Magelang. Mereka masih warga keturunan Bugis. Dalam penyamarannya, mereka mendirikan tempat pande besi. Mereka tidak membuat alat perang namun membuat alat pertanian seperti cangkul, linggis, sabit, dan lain sebagainya. Adapun, anak keturunan orang Bugis, yaitu Rangsang Muko, Rangsang Pecut, dan Rangsang Sentana.

Peperangan Diponegoro

Pada tahun 1826, waktu peperangan Diponegoro melawan penjajah Belanda, pada awal Perang Jawa, terjadi suatu peristiwa yang dikenal dengan peristiwa Pisangan. Dalam prasasti Tembi menyatakan bahwa pada waktu itu, di sekitar Bugisan, terjadi pencegatan pasukan Belanda dari Semarang yang akan masuk ke Yogyakarta. Pasukan Belanda tersebut di bawah pimpinan Kapten Komsius dan Gubernur Jenderal Ledel. Pasukan Belanda dihadang karena membawa uang 50.000 golden. Berdasar informasi dari Joko Triyono (56), dukuh ke-5 Padukuhan Beteng, mengutip buku catatan Sagimun (1985) sumber di Belanda, uang yang dibawa pasukan Belanda sejumlah 28.600 golden dan catatan buku Saleh Jamhari (2014) sejumlah 30.000 golden. Uang tersebut, akan digunakan untuk membiayai kebutuhan pasukan Belanda dalam menyerang pasukan Diponegoro.

Pasukan Belanda yang waktu itu dipimpin oleh Gubernur Jendral Ledel, dihadang anak buah Pangeran Diponegoro yang bernama Bonyong Condriyo atau Kyai Bondjor. Dari peristiwa itu, kira-kira 150 personal pasukan Belanda disiksa dan dibantai di hutan (Pohon Lo). Kini, daerah tersebut dikenal dengan nama bulak Logorok, tempat menggorok pasukan Belanda (bulak: sawah/ladang yang cukup luas di antara permukiman).

Akibat kejadian Logorok, Bonyong Condriyo atau Kyai Bondjor mengalami luka cukup parah sampai akhirnya meninggal. Jasadnya dimakamkan di Padukuhan Dukuh, selatan jembatan Kali Boyong.

Peristiwa banyaknya pasukan Belanda yang dibantai tersebut, maka dibangunlah beteng. Beteng yang dibuat oleh Belanda tersebut, bersamaan dengan dibangunnya beteng di Mlangi dan Semen. Belanda membuat beteng dengan ukuran 4×3 m, tinggi 2,5 m. Ukuran ventilasinya 8×40 cm. Atap melengkung 130 cm x tinggi 180 cm. Beteng tersebut memuat 22 orang pasukan Belanda yang sedang bertugas.

Joko Triyono mengatakan bahwa beteng buatan Belanda tersebut merupakan bagian dari strategi Beteng Stelsel yang diterapkan Belanda untuk menghadang laju pergerakan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa. Belanda berharap, dengan adanya beteng tersebut, pasukan Belanda dapat mengetahui pergerakan pasukan Diponegoro. Pasukan Diponegoro tidak melakukan gerakan dengan meluluhlantakkan jembatan Bedog, penghubung Yogyakarta menuju Semarang. Mulai saat itu, daerah tersebut dikenal dengan sebutan Beteng.

Padukuhan Beteng

Setelah kemerdekaan Indonesia, Belanda menyerahkan kedaulatannya ke Indonesia. Tanah-tanah yang dahulu dikuasai Belanda, kini tanah di daerah Logorok, digarap oleh penduduk Durenan. Sedangkan penduduk asli orang Bugis, tidak dapat garapan sawah. Mereka bekerja sebagai tukang pande besi.

Tahun 1946, terjadi penggabungan tiga kalurahan menjadi satu wilayah pemerintahan baru dengan nama Kalurahan Tridadi, yang artinya tiga kalurahan digabungkan menjadi satu nama kalurahan. Tiga kalurahan tersebut di antaranya Kalurahan Beran Lor, Kalurahan Ngemplak Caban, dan Kalurahan Beran Kidul. Dari penggabungan tiga kalurahan tersebut, ditetapkanlah juga nama padukuhan yang awalnya dari Durenan kemudian berubah menjadi Bugisan, dan akhirnya ditetapkan menjadi Padukuhan Beteng. Kini, daerah ini, secara administratif, dicatat dalam buku register pemerintahan menjadi Padukuhan Beteng meski masyarakat masih menyebutnya dengan sebutan Beteng Durenan. Demikianlah perjalanan sejarah nama Padukuhan Beteng dari Bugisan ke Durenan dan ke Beteng hingga kini.

Bukti Peninggalan Sejarah

1. Pemandian Umum Pancuran Sempor

Pemandian umum Sempor merupakan peninggalan Kerajaan Belanda, memanfaatkan mata air alam yang tidak pernah surut bahkan kering. Terletak di Padukuhan Beteng, sungai Sempor. Pembangunan sumber mata air ini, berbarengan dengan dibangunnya beteng, yang digunakan sebagai tempat pengintai pergerakan Pangeran Diponegoro. Beteng tersebut, berguna untuk mbetengi pasukan Diponegoro agar tidak merobohkan jembatan Kali Bedog, penghubung Yogyakarta menuju Semarang.

Menurut Joko Triyono, suami dari Sri Sugiyarti dan ayah tiga anak ini, kini, Pancuran Sempor digunakan sebagai wisata religi. Banyak warga di luar Durenan datang untuk berdoa. Kepercayaan masyarakat dulu, air dari sumber Kali Sempor tersebut, dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Hal ini juga dibenarkan oleh Suwarno Hadi, putra ke-2 dari dukuh ke-2 Padukuhan Beteng yang bernama Jaya Suparto. Dulu, kira-kira tahun 1938, ada orang sakit tidak bisa jalan dan tidak bisa melakukan apa-apa. Warga sakit tersebut berasal dari Godean. Ia mendapat wangsit bahwa bisa sembuh dengan mandi di pancuran Rempelas.

Warga Godean yang sakit mencari Pancuran Rempelas. Ia harus dipanggul karena tidak bisa berjalan sendiri. Orang yang sakit tersebut digotong, mencari sumber mata air di daerah Turi. Dari Turi, menelusuri sampai turun dan turun terus, ketemu di Pancuran Rempelas itu. Akhirnya, orang tersebut dimandikan di situ. Setelah dimandikan, ternyata sembuh dan pulangnya bisa berjalan sendiri tanpa digotong.

Kabar kesembuhan orang dari Godean, terdengar sampai Keraton Yogyakarta, yang waktu itu di bawah pimpinan Hamengku Buwono (HB). Sejak itu, HB IX menetapkan bahwa mata air di bawah pohon rempelas, yang sekarang terkenal dengan sebutan Pancuran Sempor itu dapat menyembuhkan penyakit. Bupati I Sleman yang bernama Pringgo Diningrat juga mengakuinya sehingga, Pancuran Sempor tersebut dirawat keberadaannya.

“Setiap hari-hari tertentu, Pringgo Diningrat datang ke Sempor dengan naik kuda untuk mandi,” imbuh Suwarno.

Perkembangan zaman, Joko, dukuh Padukuhan Beteng, memeriksakan kandungan air Pancuran Sempor ke laborat- orium. Hasil laboratorium me- nunjukkan bahwa kandungan air di Pancuran Sempor memiliki kandungan mineral tinggi.

Air Pancuran Sempor juga digunakan sebagai acara merti Padukuhan Padukuhan Beteng. Masyarakat mengambil air dari Pancoran Sempor, lalu didoakan bersama-sama. Setelah itu, air tersebut disiramkan ke empat titik. Dua titik di area persawahan selatan Jalan Magelang, yaitu RT 6 RW 13 dan RT 5 RW 13. Sedangkan dua titik lainnya ada di sebelah utara Jalan Magelang, tepatnya di RT 1 RW 12. Adapun kegiatan merti Padukuhan, diadakan secara khusus setiap tiga tahun sekali pada bulan September.

2. Beteng

Sama halnya dengan pemandian umun Sempor, Peninggalan Belanda yang terletak di Padukuhan Beteng, saat ini tinggal beberapa reruntuhan beteng yang tersisa. Menurut Suwarna Hadi, beteng yang ada di Padukuhan Beteng tersebut merupa- kan bentuk monumental dari sejarah perjuangan gerilya Pangeran Dipenogoro melawan penjajah Belanda.

Dulunya, beteng tersebut berada di tengah kebun kosong. Namun, seiring berkembangnya zaman, beteng tersebut sudah dikelilingi rumah perkampungan. Keberadaan Beteng pada saat ini, masih dilestarikan. Waktu-waktu tertentu, ada warga yang melakukan ritual dengan memberikan sesaji.

3. Makam Demang Soijoyo

Demang Soijoyo adalah salah tokoh yang membuka Hutan Rempelas. Makam Demang Soijoyo berada di Padukuhan Durenan, sebelah tenggara makam umum Durenan. Keberadaannya di antara persawahan, utara Jalan Magelang.

4. Makam Bonyong Condriyo atau Kyai Bondjor

Kyai Bondjor merupakan salah satu anak buah Diponegoro yang ditugasi menghadang pasukan Belanda dari Semarang masuk ke Yogyakarta. Dalam peristiwa penyiksaan dan pembantaian terhadap pasukan Belanda, Kyai Bondjor juga mengalami luka yang begitu parah. Sampai akhirnya, ia meninggal. Jasadnya dimakamkan di Padukuhan Dukuh, selatan jempatan Kali Boyong.

5. Peralatan Pande Besi

Bukti/tanda peralatan pande besi, sudah tidak ada karena anak turun warga Bugis tidak melanjutkan karena mereka banyak yang pekerja sebagai aparat negara, perkantoran, tani, buruh, dan sebagainya. Minat untuk melanjutkan sebagai tukang pande besi tidak ada.

 

Penulis : Eti Daniastuti